Jalan Damai Demokrasi Kita

Penulis : Mas Gie (Kader Himpunan Mahasiswa Islam)

Bacaan Lainnya

Persembahan untuk pemilihan cerdas dalam menyambut peserta demokrasi Indonesia

Melanesiatimes.com – Indonesia sebagai salah salah satu negara yang menganut sistem demokrasi, dimana sudah barang tentu Pemerintahannya diselenggarakan “Dari Rakyat, Oleh Rakyat, dan untuk Rakyat” melalui pemilihan umum secara langsung.

Indonesia dalam perjalanan demokrasi telah mengalami beberapa fase, dimulai dari Presiden pertama Indonesia yang menggunakan sistem demokrasi parlamenter hingga saat ini berlanjut dengan demokrasi Pasca Reformasi. Ditambah dengan kemajemukan masyarakat Indonesia yang sangat beragam ini pula sehingga melahirkan multi partai dalam menghiasi dan mengisi perjalan politik kita, dalam Negara Demokrasi sudah barang tentu membenarkan kehadiran partai politik sebagai pilar dari demokrasi itu sendiri serta melaksanakan kedaulatan rakyat yakni melalui pemilihan umum, dalam rangka menduduki kursi Kepemimpinan atau kekuasaan melalui partai politik sebagai wadah untuk mempersiapkan atau menciptakan para pemimpin di negeri tercita ini.

Dalam sistem demokrasi pemerintahan di mana seluruh rakyatnya turut serta memerintah dengan perantaraan wakilnya. Demokrasi juga diartikan sebagai gagasan atau pandangan hidup yang mengutamakan persamaan hak dan kewajiban serta perlakuan yang sama bagi semua warga negara.

Kita semua tahu bahwasanya berbicara mengenai konsep demokrasi yang dilahir oleh Yunani kuno yang telah dipraktikkan dalam kehidupan bernegara antara Abad ke-4 Sebelum Masehi sampai dengan Abad ke-6 SM. Demokrasi memiliki beberapa prinsip, seperti persamaan hak, kebebasan berpendapat, kebebasan berekspresi, kebebasan berserikat, dan kebebasan beragama.

Lebih lanjut, dalam sejarah perkembangan demokrasi di Indonesia juga dipengaruhi oleh bebera faktor mulai dari pengertian dan konsepsi demokrasi menurut para tokoh dan founding fathers Kemerdekaan Indonesia, terutama Mohammad Hatta, dan Soetan Sjahrir. Selain itu, gotong royong dan rasa kekeluargaan menjadi pangkal dari demokrasi Pancasila.

Namun, dalam demokrasi di Indonesia mengalami dinamika yang cukup kompleks dan mengalami perkembangan yang sangat dinamis.

Berikut adalah beberapa fase perkembangan demokrasi di Indonesia:

1. Demokrasi Parlementer (1945-1959)

Pada fase ini, Indonesia resmi menjadi negara yang merdeka dan menerapkan sistem demokrasi parlementer. Sistem ini berlangsung hingga tahun 1959.

2. Demokrasi Terpimpin (1959-1965)

Pada masa ini, sistem demokrasi berubah menjadi sistem demokrasi terpimpin. Sistem ini berlangsung hingga tahun 1965.

3. Demokrasi Pancasila pada Era Orde Baru (1966-1998)

Pada masa ini, sistem demokrasi berubah menjadi sistem demokrasi Pancasila. Sistem ini berlangsung hingga tahun 1998.

4. Demokrasi Pasca Reformasi (1998-sekarang)

Setelah jatuhnya Presiden Soeharto pada Mei 1998, Indonesia mengalami proses reformasi politik yang membuka peluang bagi perkembangan demokrasi. Pada masa ini, Indonesia menerapkan sistem demokrasi yang lebih terbuka dan partisipatif.

Fungsi dan Peran Demokrasi di Indonesia

Berikut adalah fungsi dan peran demokrasi di Indonesia secara singkat:

  • Mewujudkan kedaulatan rakyat
  • Menjamin hak asasi manusia
  • Mendorong akuntabilitas pemerintah
  • Melindungi keanekaragaman dan pluralisme
  • Mendorong pembangunan ekonomi dan sosial
  • Menjaga stabilitas politik
  • Mendorong partisipasi masyarakat
  • Menjaga keseimbangan kekuasaan

Fungsi dan peran demokrasi di Indonesia sangat penting dalam menjalankan sistem pemerintahan yang adil, partisipatif, dan berkeadilan.Perkembangan demokrasi di Indonesia mengalami dinamika yang cukup kompleks dan menjalani perkembangan yang sangat dinamis. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk terus berpartisipasi aktif dalam menjaga dan memperkuat demokrasi di Indonesia.

Kita tahu bahwa saat ini negara kita sebagai negara demokrasi terbesar Ke-3 di Dunia, dan menetapkan Stabilitas Politik Nasional untuk meningkatkan kualitas Perekonomian dan taraf hidup masyarakat Indonesia.

Berbagai sebab kegagalan negara-negara lain dalam menerapkan demokrasi antara lain:

Yaman

Setelah revolusi tahun 2011 yang menggulingkan presiden Ali Abdullah Saleh, Yaman mengalami krisis politik dan konflik bersenjata yang kompleks. Perang saudara yang melibatkan berbagai kelompok, termasuk pemberontak Houthi dan koalisi yang dipimpin oleh Arab Saudi, telah menyebabkan kehancuran infrastruktur, kelaparan, dan krisis kemanusiaan yang parah. Upaya demokratisasi terhenti dan negara ini terperosok ke dalam kekacauan dan ketidakstabilan.

Libya

Setelah penggulingan rezim Muammar Gaddafi pada tahun 2011, Libya mengalami kekacauan politik dan ketidakstabilan yang berkepanjangan.

Berbagai kelompok bersenjata dan faksi politik saling bertempur untuk merebut kekuasaan, menyebabkan kevakuman keamanan dan lemahnya otoritas pemerintah pusat.

Konflik internal yang berlarut-larut, campur tangan asing, dan kurangnya konsolidasi politik telah membuat proses demokratisasi Libya sangat kompleks.

Venezuela

Meskipun Venezuela telah lama mengadopsi sistem demokrasi, negara ini mengalami krisis politik dan ekonomi yang parah dalam beberapa tahun terakhir.

Pergeseran di era pemerintahan Presiden Nicolas Maduro, kegagalan ekonomi yang meluas, inflasi yang tinggi, dan pembatasan kebebasan politik telah menyebabkan kekacauan sosial dan ketidakstabilan politik yang signifikan.

Penting untuk dicatat bahwa peralihan menuju sistem demokrasi adalah proses yang kompleks dan tidak ada jaminan keberhasilan.

Tantangan yang dihadapi oleh negara-negara ini dapat melibatkan faktor-faktor seperti konflik etnis, korupsi, ketidakstabilan ekonomi, atau intervensi eksternal.

Berbagai sebab kegagalan negara-negara itu dalam menerapkan demokrasi antara lain:

1. Ketidakstabilan Ekonomi

Pemulihan ekonomi yang lemah atau tidak ada, dapat menyebabkan ketidakstabilan politik. Dalam beberapa kasus, negara-negara yang baru mengadopsi sistem demokrasi tidak mampu mengatasi masalah ekonomi yang kompleks, seperti pengangguran, kemiskinan, dan kurangnya sumber daya.

Ketidakpuasan ekonomi ini dapat memicu ketegangan sosial dan politik yang dapat melemahkan institusi demokrasi.

2. Konflik Etnis dan Agama

Negara-negara dengan sejarah konflik etnis atau agama yang kuat sering menghadapi tantangan yang lebih besar dalam menjaga stabilitas politik setelah transisi menuju demokrasi.

Ketegangan dan persaingan antar kelompok etnis atau agama dapat menghalangi proses demokratisasi yang harmonis dan menciptakan konflik yang merusak stabilitas negara.

3. Kurangnya Pengalaman Demokrasi

Beberapa negara yang baru-baru ini mengadopsi sistem demokrasi mungkin belum membangun fondasi yang kuat untuk mengelola proses politik yang demokratis.

Kurangnya pengalaman demokrasi, kurangnya kapasitas institusi, dan kurangnya kesadaran akan pentingnya pengawasan dan akuntabilitas dapat menyebabkan keruntuhan sistem demokrasi.

Jangan samapai pengalaman yang sudah cukup panjang kita lewati dari setiap fase demokrasi ini menjadi sia-sia bahkan gagal dilaksanakan oleh generasi kita, untuk itu mari menjaga supaya berbagai kepentingan ekonomi, sosial, kultur, agama, ilmu, dan lain-lain dalam masyarakat dan negara terpelihara dengan sebaik-baiknya.

Semangat demokrasi Indonesia adalah demokrasi sosial dan kolektif atau Gotong royong, Sebab itu harus ada harmoni dalam pemeliharaan dan politik pemerintah, yang dapat dibanding setiap waktu oleh rakyat menurut hak pilih yang bersifat umum dan berkesamaan.

Tidak dapat disangkal, bahwa pemimpin-pemimpin partai politik kita dalam masa sepuluh tahun terakhir ini gagal dalam melaksanakan tugasnya. Mereka lebih banyak mengabaikan Undang-Undang dasar dan Pancasila dibanding menaatinya. Dan akibatnya, Indonesia semakin jauh dari cita-citanya. Sejarah Indonesia sejak sepuluh tahun terakhir ini seolah-olah mencerminkan apa yang dilukiskan Schiller:

Eine grosse Epoche hat das Jahrhundert geboren. Aber der grosse Moment findet ein kleines Geschlecht. (Suatu masa besar dilahirkan abad. Tetapi masa besar itu menemui manusia kecil.)

Tetapi sejarah memberi harapan juga kepada manusia. Suatu barang yang bernilai seperti demokrasi baru dihargai apabila hilang

sementara waktu. Asal bangsa kita mau belajar dari kesalahannya dan berpegang kembali kepada ideologi negara dengan jiwa yang murni, insya Allah!!

Semoga menambah semangat untuk menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara.