Program Penanggulangan HIV/AIDS di Kota Sorong 

Melanesiatimes.com – Yayasan Peduli Kelompok Dukungan Sebaya (YPKDS) melakukan pertemuan koordinasi,  untuk membangun sistem keberlangsungan ketersediaan logistik obat (ARV-TB dan Commodity Service Delivery and Distribution Mechanism), se-Distrik Kota Sorong di Cafe Lain Hati Kota Sorong, KM 7,5. (Jum’at, 08/09/2023)

Bacaan Lainnya

Turut hadir dalam kegiatan ini, Dinas Kesehatan Kota Sorong, RS. Selebesolu, Puskesmas Sorong Timur, Puskesmas Klasaman, Puskesmas Malanu, Puskesmas Malaimsimsa, Puskesmas Kota Sorong, Puskesmas Remu, Puskesmas Malawei, Puskesmas Sorong Barat, Puskesmas Tanjung Kasuari, Puskesmas Dom, KPA Kota Sorong, Yayasan Papua Lestari, Yayasan Sorong Sehati, Yayasan Pena Bulu, Media Melanesiatimes.com, Advokasi Officer, Paralegal Officer, CBMF Officer.

Harapan dari kegiatan tersebut adalah mendorong Percepatan Viral Load (viral load HIV adalah jumlah / banyak virus HIV yang ada di dalam tubuh atau seseorang yang telah terinfeksi HIV)”, dan mendiskusikan perkembangan dan laporan ketersediaan logistik di setiap distrik di Kota Sorong.

Jenny Isir (Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Kota Sorong)

Dalam keterangannya kepada media ini, Jenny Isir selaku Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Kota Sorong mengatakan, ini adalah kegiatan kesekian kalinya dari Dinkes Kota Sorong yang selalu berkolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat untuk memberikan edukasi dan mensosialisasikan Program Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS di Kota Sorong.

“Kali ini kami di undang untuk berkolaborasi dengan LSM YPPKS untuk mendukung layanan logistik HIV/AIDS di Kota Sorong dan memastikan ketersediaan stok reagen (cairan untuk mengetahui reaksi kimia), HIV/AIDS, reagen satu, dua dan tiga, itu harus selalu tersedia, baik di rumah sakit maupun di puskesmas se-kota Sorong”. Tuturnya.

Evaluasi saol penanganan HIV/AIDS ini selalu kami lakukan untuk mengetahui ketersediaan stok di lapangan baik itu di RS, Puskesmas maupun dari berbagai LSM sehingga ketika ada sosialisasi dan ada masyarakat yang ingin melakukan tes maka itu bisa dilakukan, tentu logistik atau reagan itu harus tersedia.

Dengan begitu ketika ada yang terdeteksi positif maka akan dilakukan langkah pengobatan, untuk diketahui tes HIV/AIDS dan pengobatannya semua di gratiskan.

Untuk pengobatannya sekarang ini adalah pengobatan Antiretroviral, untuk pemberian obat ini tentu harus stoknya tersedia, jadi ketika dilakukan tes dan hasilnya positif maka akan mendapatkan pengobatan lebih awal, karena untuk mengkonsumsi obat ini, jangka waktunya memang cukup lama sehingga ketersediaan stok ini harus selalu tersedia, bukan hanya obat saja tapi juga ketersediaan kondom dan pelicinnya juga harus tersedia.

Ikbal Sukunwatan (CBMFO)

Sementara itu, Ikbal Sukunwatan selaku CBMFO mengatakan, maksud dari kegiatan ini adalah mengumpulkan berbagai stakeholder, layanan kesehatan, dinas kesehatan, media, komunitas dan lembaga yang dibutuhkan. Dilaksanakan oleh taskforce distrik atau dengan yang berkepentingan. Tujuannya adalah untuk koordinasi yang membahas ketersediaan logistik, terbangunnya mekanisme komunikasi untuk memonitor ketersediaan logistik dan percepatan viraload pada tingkat distrik.

Ikbal Sukunwatan selaku CBMFO (COMMUNITY BASED MONITORING FEEDBACK OFFICER) yang memfasilitasi kegiatan ini mengatakan, “Tugas CBMFO adalah Memonitoring Ketersediaan Logistik (ARV, KONDOM, REAGEN) di 10 Puskesmas dan 1 Rumah sakit di Kota Sorong”. Ucapnya (ZK)