TikTokers : Kapolri dan Panglima TNI Harus Duduk Bersama Usut Kasus Penyerangan Polres Jeneponto ! Gerudukan Kayak Anak Kecil 

Screenshot - YouTube ; Koma Indonesia.

Melanesiatimes.com – Peristiwa memalukan terjadi di Jeneponto Sulsel, sekelompok anak muda yang diduga anggota TNI telah menyerang kantor Polisi di Jeneponto.

Bacaan Lainnya

Peristiwa tersebut di komentarin tiktokers asal Cilacap : TAUFIQ_CILACAP (@taufiq_cilaca) Berikut komentarnya : 

Assalamualaikum wr wb :

Saudara sekalian, sedih, marah, geram, itu yang ada dalam pikiran saya mendengar dan mem

baca berita bagaimana markas kepolisian resort Jeneponto Sulsel diserang oknum tidak dikenal, dilakukan pada dini hari.

Tentu ini sangat membuat kami sedih, sangat disayangkan kepolisian Republik Indonesia adalah lambang keamanan negara karena sesuai undang-undang diberi amanat untuk memberi keamanan warga negara.

Tapi simbol keamanan negara kemarin diserang orang tak dikenal. Tentu kami bersedih, bagaimana dengan institusi lain? Padahal kepolisian Republik Indonesia ini institusi yang diberi Kewenangan untuk menjamin keamanan masyarakat. Apalagi berkembang isu bahwa penyerangan itu diawali oleh adanya kesalahpahaman antara oknum TNI dengan oknum Polri.

Sungguh tidak ada di dalam pikiran saya, bagaimana mungkin? Mereka adalah orang-orang yang dibayar oleh negara, dibayar dari uang pajak yang ditarik dari rakyat. Ditugaskan untuk melindungi rakyat. Tetapi 2 institusi besar yang kami banggakan selama ini, institusi besar yang padanya kami pasrahkan keamanan dan keselamatan negara, kami pasrahkan secara langsung Keutuhan negara Republik Indonesia untuk berada di garda terdepan menjaga wilayah Indonesia, pertahanan negara kita. Tiba-tiba menyedihkan sekali.

Tentu harus ada evaluasi menyeluruh kepada kedua institusi terkait perilaku-perilaku anggotanya. Maka tidak ada pilihan lain, Kapolri dan Panglima TNI harus mengusut ini secara gamblang dan terbuka. Jika terjadi kesalahpahaman, percekcokan, bahkan anggota TNI yang saat itu sedang cuti, dan itu bukan anggota TNI wilayah sana, karena yang satu dari Pangdam Brawijaya jatim, yang satu dari Pangdam Merdeka. Dan tiba-tiba terjadi percekcokan. Saya begitu sedih.

Saya kemarin tidak ingin berkomentar karena tidak mau memperkeruh. Lalu Viral di media mainstream., pangdam dan kapolda ketemu menyatakan kasusnya sudah selesai, tidak ada buntut lagi. Tapi terhenyak

ketika dini hari 27 April kemarin, Mapolres diserang orang tidak dikenal, 100 orqng kurang lebih menggunakan batu dan bom molotov. Ini ngeri. Kalau betul yang menyerang itu tentara maka juga harus diusut tuntas, apalagi ada salah satu anggota kepolisian yang tertembak.

Peluru yang dibayar dengan uang rakyat, peluru yang digunakan untuk menjamin keutuhan NKRI, untuk membuat rakyat aman, kami-kami aman, digunakan secara sembarangan untuk menembqk sesama aparat. Maka sungguh kami sangat kecewa dengan apa yang terjadi di Jeneponto. Kami mohon, terlebih lagi ini suasana hari raya Idul Fitri, 5 hari setelah lebaran. Mohon maaf, apakah bapak-bapak polisi, mas-mas polisi, mas-mas tentara yang terlibat dalam keributan ini apakah tidak berpuasa? Terus apa artinya idul fitri, kembali pada kefitrahan?

Mungkin kemarin dengan enteng mengucapkan minal Aidzin wal faidzin. Doa agar kita kembali ke kondisi fitrah kita. Kondisi dasar kita dan fitrah seorang aparat keamanan polisi, mestinya bagaimana di dalam hatinya, ada rahman ada rahim, kasih dan sayang. Sehingga ia betul-betul mencurahkan pikiran, ucapan, tindakan dan perbuatannya untuk mewujudkan rasa aman bagi masyarakat. Terlebih lagi TNI yang diembankan Undang-Undang kepadanya untuk menjaga keutuhan NKRI.

Tidak habis pikir. Apa arti yang terlintas dalam pikiran dan ucapan minal Aidzin wal faidzin ini, mohon maaf lahir batin ini? Kok ya mohon maaf lho ya, anggota TNI-Polri kok nggak beda sama anak SMK yang awal baligh menunjukkan eksistensinya, butuh eksistensi gagah-gagahan. Kok ya dengan mudahnya kemudian tersulut perpecahan, permusuhan, adu mulut sampai adu pukul? Itu sangat – sangat jauh dari akal sehat. Sangat tidak masuk akal.

Kami mohon sekali lagi Pak Kapolri, pak Panglima TNI, bintang di institusinya, di TNI-Polri, pembinaan mental dikuatkan. Beri bekal mereka baik yang cuti maupun dinas, terus-menerus pentingnya untuk mengendalikan diri. Pentingnya untuk tidak membawa institusi di dalam masalah pribadi.

Percekcokan kecil sehari sebelum penyerangan, itu hal kecil yang bisa diselesaikan dengan cara saling memaafkan. Kalau betul memang sehari setelahnya dilakukan penyerangan di Mapolres yang dilakukan oleh banyak orang, ini tidak masuk nalar saya. Kok ya seratusan orang tersebut seperti anak kecil diajak gerudukan. Kalau duel ya duel aja dong. Ini deddy corbuzier tolong beri panggung buat tinju sekalian. Jadi bukan duel itu yang diharapkan rakyat.

Polisi tertembak, diobati, obat nya pakai duit pajak dari rakyat. Ada mobil rusak, itu satu harganya beraoa. Dan yang terpenting dari kasus ini adalah kemudian citra nama baik Polri dan TNI menjadi jelek. Kepercayaan Masyarakat menjadi turun dan rasa aman dari rakyat Indonesia terganggu.

Mengapa masalah-masalah seperti itu tidak diselesaikan dengan damai? Duduk bersama diselesaikan. Bukan dengan cara barbarian, adu pukul adu jotos bukan tradisi kita manusia modern. Apalagi sampai penggerudukan, penyerangan. Coba bayangkan betapa hari ini mereka yang ingin merusak TNI-Polri, mereka yang berkepentingan mengadu domba TNI-Polri bertepuk tangan riang gembira. Sekali lagi yang dirugikan rakyat, Masyarakat, negara, semua dalam kerugian besar. Ini nasihat bagi kita semuanya.

Mari semuanya jangan mengedepankan ego institusinya ketika ada masalah-masalah pribadi. Yang jantan dong. Kalian ini kan sapta marga, diajar untuk bagaimana sesuai dengan sumpah sapta marga, mengutamakan kepentingan bangsa dan negara. Kalian ini para polisi itu ada sumpah bahwa kalian bekerja itu un

tuk keamanan masyarakat, menjamin keselamatan warga negara. Jadi sungguh saya bersedih. Kalau ini tidak diusut tuntas, bukan tidak mungkin kasus-kasus lain akan muncul.