Rencana Pemerintah NTT Bangun Pabrik Pakan Ternak

Ilustrasi Tanaman Jagung Pakan Sapi

Melanesiatimes.com – Pemerintah Provinsi NTT berencana membangun pabrik pakan ternak di tiga wilayah di NTT yakni  Timor, Flores dan Sumba.

Kehadiran pabrik pakan ternak di wilayah Pulau Timor diyakini dapat mendorong sektor peternakan khususnya di Kabupaten Kupang sebagai basis penghasil ternak yang signifikan di NTT.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Lecky Frederich Koli, dalam keterangannya saat panen perdana bawang merah varietas Lokananta di Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang, Selasa (28/9) menyampaikan hal tersebut.

Bacaan Lainnya

Untuk program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS), kata dia, potensinya telah dikerjakan di musim kemarau untuk tetap menjaga rantai pasok. Habitus ini menurutnya tetap perlu dijaga menanggapi adanya pabrik pakan ternak ke depannya yang akan ada di Kabupaten Kupang.

Baca juga : Pemda NTT Terima Kunjungan Delegasi Republik Demokratik Timor Leste 

“Kabupaten Kupang punya potensi yang besar di sini karena industri pakan ternak ke depan telah dimulai. Pak Gubernur akan menyelesaikan itu,” kata dia.

Saat ini, Dinas Pertanian akan mengatur kebutuhan pakan ternak dari program TJPS sehingga produksinya nanti efektif.

“Suplai kebutuhan pakan ternak akan diatur wilayah basis produksinya untuk bisa ditata kelola produksinya,” terang dia.

Selain itu, pihaknya akan bekerja sama dengan Bank NTT untuk penyediaan alat tanam, mesin panen, sarana produksi lainnya seperti benih pupuk dan obat-obatan.

Untuk mengelola lahan dalam program TJPS sendiri adalah gratis dengan sarana yang diberikan. Sedangkan di luar program TJPS terkena biaya Rp750 ribu untuk pembiayaan alat dan bahan.

Ia akan membuat listing daerah sentra produksi di NTT. Untuk Kabupaten Kupang misalnya saja dari Baubau hingga Pariti terdapat 7000 ha lahan yang akan membantu pasokan ketahanan pangan dalam musim tanam berikutnya.

Baca juga : Kemenkominfo Bangun 421 BTS 4G Di NTT

Sebelumnya, Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi memaparkan capaian TJPS dalam paripurna tanggapan pemerintah terhadap pandangan fraksi soal dampak TJPS terhadap pendapatan asli daerah.

Josef menyebut sejak akhir 2019 sampai saat ini TJPS belum berkontribusi langsung terhadap PAD mengingat seluruh input seperti benih, pupuk, obat-obatan diberikan kepada petani sebagai bantuan cuma-cuma. Untuk nilai produksi jagung TJPS yang dilaksanakan sejak akhir tahun 2019 sampai periode Oktober hingga Maret 2020/2021 senilai Rp91.574.464. Sementara realisasi ternak hingga Oktober 2020 hingga Maret 2021 terdiri dari 811 ekor sapi dengann nilai  Rp 5.000.000 per ekor sehingga total Rp. 4.055.000.000. Sementara lainnya adalah kambing, babi, ayam dengan total TJPS telah berdampak pada adanya investasi ternak di petani sebesar Rp7.317.100.000.

Baca juga : Masyarakat NTB dan NTT Kesulitan Air Bersih

Sementara itu, Anggota Komisi II DPRD Provinsi NTT, Johan Julius Oematan melihat secara langsung progres TJPS di Malaka. Menurutnya terjadi perubahan ekonomi yang lebih baik dengan manajemen masa tanam yang baik.

“Betul-betul difasilitasi pemerintah terutama saat musim kemarau yaitu dengan pompa air, bibit jagung, pupuk subsidi dan traktor yang mana petani tinggal isi bahan bakarnya saja, begitu pun sampai dengan panen ada mesinnya,” tukasnya Rabu (29/9) di ruang Komisi II DPRD NTT.

Musim tanam kedua pun dibantu agar petani tetap dapat memperoleh hasil saat musim panen misalnya pada Oktober mendatang. Pemerintah juga dinilainya cukup baik dalam menyediakan pendamping petani yang mengawasi dan mengakomodir kebutuhan petani dalam bekerja.

Ia berharap dengan TJPS ini selain dapat berdampak ekonomi juga berpengaruh pada kesempatan hidup anak-anak di kabupaten Malaka akibat membaiknya ekonomi petani.