Menu

Mode Gelap
Aksi Depan KPK, Aliansi Pemuda Cinta Indonesia Dikepung Preman  Finlandia Tertarik dengan Kota Pintar di IKN Koordinator Nusa Ina Connection, Apresiasi Pernyataan Menteri Kordinator Bidang Polhukam Mahfud MD Presiden Jokowi Minta Perang Ukraina Segera Dihentikan Pemerintah Kembali Buka Ekspor Minyak Goreng

Opinion WIB

Liga 1 Tanpa Degradasi, PSSI Butuh Revolusi


 Logo : LAPPOR DKI Jakarta (Istimewa) Perbesar

Logo : LAPPOR DKI Jakarta (Istimewa)

Melanesiatimes.com – Dalam sudut pandang manapun dan landasan apapun keputusan federasi tertinggi sepak bola Indonesia untuk menghentikan liga 2 dan liga 3, serta menjalankan liga 1 tanpa adanya system degradasi adalah suatu keniscayaan yang sangat sulit dipahami dan diterima oleh akal sehat. Pasalnya system degradasi merupkan bagian paling intim untuk merongrong semangat dan mentalitas para pemain sepak bola.

Liga 2 dan liga 3 bukan tempat sampah yang tidak memiliki manfaat, melainkan liga tersebut merupakan anak kandung dari liga 1 yang selamanya tidak akan bisa dileps pisahkan, liga 1-3 adalah paket lengkap dalam sebuah system federasi sepak bola di negara manapun, sebab ada dua kata yang menunggu dalam penantian panjang untuk sebuah prestasi dimasa depan yaitu “Promosi dan Degradasi”. Klub di liga 3 dan liga 2 yang masuk sebagai finalis pada kastanya akan di-Promosikan untuk naik kelas, begitu pula klub di Liga 1 dan liga 2 yang memiliki perfoma buruk akan di-Degradasi turun satu tingkat di kasta yang rendah.

Petinggi PSSI sebenarnya lebih paham akan paket lengkap antara liga1, liga 2, liga 3 serta Promosi dan Degradasi dalam manajemen pengaturan sepak bola, Namun entah angin apa yang menimpa mereka sehingga berani membuat keputusan kontroversial yang akan merusak masa depan sepak bola Indonesia. Ketika liga 2 dan liga 3 ditiadakan dan liga 1 berjalan tanpa degradasi maka tidak ada yang namanya promosi, terlebih dari itu, system kontroversial ini akan menciptakan celah yang cukup luas bagi oknum-oknum tertentu untuk melakukan praktik-praktik tidak terpuji, mafia sepak bola akan tertawa bahagia karena mereka lebih muda berjudi dengan leluasa. Pemain juga akan mengalami inflasi semangat dan kerja keras karena berkurangnya tantangan paling intim dalam system sepak bola.

PSSI sendiri sudah 4 kali dari 2012 melakukan Kongres Luar Biasa, Namun menghasilkan prodak yang sama persis seperti sebelumnya, bahkan lebih rusak dan tidak memiliki perkembangan apapun, hanya sedikit baik dikepengurusan periode 2013-2015 dengan peran AA. Lanyala M. Mattalitti, Namun tidak bertahan lama setelah selesai kepengurusannya. Dalam kepemimpinan petinggi PSSI periode saat ini justru membangun citra buruk bagi sepak bola Indonesia, Prsestasi tidak seberapa, Federasi seperti Prostitusi. dari pengaturan dan system yang buruk rupa tersebut juga telah menciptakan sebuah sejarah kelam tentang sepak bola di negeri tercinta.

Kita ketahui bersama bahwa PSSI tidak boleh dilepas pisahkan dari tragedi kanjuruhan yang menciptakan sejarah buruk dalam sepak bola yang menggelora di Dunia. Padahal, banyak orang percaya sepak bola merupakan alat pemersatu bangsa, dia mampu mengalahkan apa pun termasuk konflik dan kediktatoran. Seperti dilakukan Legenda Chelsea Didier Droghba saat menghentikan pertikaian di negerinya. Atau Bintang Bayern Munchen, Sadio Mane yang sukses mengubah desanya yang miskin, jadi sebuah kota yang bergeliat.

“Sifat kompetitif sepakbola sejatinya telah membuatnya punya peran penting dalam catatan sejarah. Dimana bangsa-bangsa saling bersaing dan para individu berjuang menjadi yang terbaik. Sepakbola lantas bisa mengubah jalannya sejarah”

PSSI Butuh Revolusi.

Di internal PSSI, kongres memiliki kewenangan tertinggi. Karena itu, lewat mekanisme kongres, berbagai hal bisa diputuskan. Termasuk mengubah Statuta PSSI. Saat ini setidaknya ada satu ayat dalam Statuta PSSI yang dinilai sudah tidak relevan. Yakni, pasal 38 ayat 4 tentang komite eksekutif yang berbunyi :

“Anggota komite eksekutif harus sudah berusia lebih dari 30 tahun, mereka harus telah aktif di sepak bola dalam koridor PSSI sekurang-kurangnya 5 tahun, dan harus memenuhi syarat yang ditentukan dalam Statuta PSSI ini.”

Pertanyaannya kenapa harus 30 tahun? Filosofinya apa? Kalau ada orang baru berusia 20 tahun dan punya kemampuan luar biasa, kenapa tidak diberi kesempatan? Kenapa harus 5 tahun aktif di sepak bola juga harus dijelaskan secara filosofis, psikologi dan yuridis sifat negatifnya sehigga bisa logis untuk diterima semua kalangan.

Ada empat perihalal mendasar dalam peraturas PSSI yang harus drekonstruksi secara besar-besaran sesuai dengan sosio-kultural ke-Indoenesian dengan tetap memperhatikan aturan FIFA yaitu: Statuta, governance regulations, membership or admission regulations, kode disiplin dan kode etik.

Standard Statuta FIFA adalah draf dasar, PSSI bertugas secara professional untuk melakukan proses penyempurnaan menjadi Statuta PSSI di bawah arahan FIFA. Artinya, setelah Statuta PSSI ini diratifikasi, maka Standard Statuta FIFA sudah tidak digunakan lagi, karena sudah bertransformasi menjadi Statuta PSSI, oleh karena itu dalam proses penyempurnaan haruslah memperhatikan setiap kata dan kalimat secara detil dalam tafsiran normative yang bersifat positif untuk keberlangsungan Federasi Tertinggi Sepak Bola Indonesia. Tidak lupa juga untuk tetap memperhatikan oknum-oknum hidung belang yang tidak kompeten dan tidak nemiliki integritas.

PSSI pada masa kepengrusan periode 2013-2016 cukup menjanjikan, ada beberapa prestasi dan perkembangan Timnas yang signifikan, citra sepak bola Indonesia juga layak mendaptkan jempol pada kepengurusan periode itu. Sosok AA LaNyalla Mahmud Mattalitti pernah menjabat sebagai pengurus serta Ketua Umum PSSI dalam rentang waktu sejak 2015-2016 yang mendapatkan dukungan dari banyak kalangan dan PSSI mendapatkan reward dari kepemimpinannya dengan perbaikan kantor bertaraf internasional dengan uang pribadi dan Kemenangan Timnas Usia 19 Tahun pada kontestasi Piala AFF. LaNyalla sukses membawa Timnas U-19 menjuarai Piala AFF U-19 2013. Bahkan, dikutip dari berbagai sumber, Senator asal Jawa Timur itu rela merogoh kocek sendiri sebesar Rp13 Miliar hanya untuk keperluan renovasi kantor PSSI di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK). Hal itu dibenarkan oleh pelatih nasional, Rahmad Darmawan. Pria yang pernah menjabat pelatih Timnas itu bangga dan mengetahui bahwa LaNyalla yang merombak kantor PSSI hingga berkelas dunia.

“Pada saat kepemimpinan LaNyalla disitulah PSSI memfollow seratus persen FIFA requirement. Sampai-sampai gedungnya dibuat sedemikian bagus. Pada saat itulah PSSI untuk pertama kalinya memiliki kantor sendiri yang sangat berkelas,” kata Rahmad.

Pria yang kerap disapa RD itu juga menyampaikan, saat kepemimpinan LaNyalla di PSSI, FIFA sangat mendukung perkembangan sepak bola Tanah Air. Mantan pelatih Sriwijaya FC itu mengatakan, PSSI saat dipimpin LaNyalla sangat teratur dalam segi administrasi dan pengaturan serta beberapa sistem lainnya.

Namun hal itu tidak bertahan lama, karena kepengurusan periode itu harus berakhir hengkang dengan kongres Luar bisa secara terbuka pada tahun 2016. Kongres PSSI yang diikuti 107 pemilik suara yang terdiri dari perwakilan klub Liga Super Indonesia (ISL), Divisi Utama, Liga Nusantara, dan anggota asosiasi provinsi menghasilkan Ketua Umum baru menggusur posisi Lanyala dengan dugaan kasus buatan yang tidak terbukti hingga kini.

Dalam konsepsi Revolusi PSSI ini saya sengaja tidak terlalu banyak menyediakan materi tentang peraturan-peraturan, saya sengaja mengusik catatan sejarah tentang LaNyala sebagai sebuah tanda pengelolaan PSSI yang berintegritas karena menurut saya pada zamannya PSSI cukup baik disegala lini, baik perjalanan bergulirnya liga hingga penataan system internal kepengurusan yang baik. Terlepas dari semua belenggu yang ada saya ingin mengatakan bahwa Revolusi PSSI harus dimulai dari manusianya, siapun dia yang menjadi petinggi di PSSI harus memiliki integritas dan profesionalisme dengan radius paling tinggi, sebab keterpurukan sepak bola kita selama ini karena banyak petinggi PSSI yang tidak memiliki integritas diri dan tidak bekerja secara professional. Manusia Indonesia memang sedang dilanda virus desintegrasi moral terkhususnya orang-orang yang yang memiliki posisi tertentu di Republik ini seperti petinggi PSSI yang kita bicarakan. Awalnya saya ingin memulai tulisan dengan revolusi moral, namun saya pikir hal itu akan membawa kita keluar jauh dari pembahasan khusus tentang PSSI dan masa depan sepak bola kita.

“Federasi sepak bola Indonesia butuh petinggi yang memiliki karakter asli manusia Indonesia yang berbudi pekerti, beriman dan bertakwa serta berpengetahuan luas seperti faunding Father bangsa ini”

Oleh : Zulkarnain Kella : Direktur Lembaga Penggerak dan Pengembangan Olahraga (LAPPOR DKI Jakarta)

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 21 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Pemimpin itu Hadir Membawa Perubahan, Bukan Beban.!!

27 Januari 2023 - 11:24 WIB

Pemodal yg Pintar dan Pejabat yang Tolol?

23 Januari 2023 - 09:53 WIB

Arah Koalisi Parpol Jelang Pilpres 2024

11 Januari 2023 - 18:34 WIB

Pilpres 2024, Defisitnya Politik Gagasan (?)

20 November 2022 - 08:58 WIB

Elat, Negeri Para Datuk

13 November 2022 - 21:00 WIB

Integrasi dan Manifesto Nilai HMI Dalam Arus Perkembangan Zaman

31 Oktober 2022 - 23:23 WIB

Trending di Opinion