Aksi dan Surat Terbuka PMKRI Untuk DPP PDI – Perjuangan

Melanesiatimes.com – Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia, Se-DKI Jakarta melakukan aksi demonstrasi di depan Gedung DPP PDIP, di tengah perayaan HUT PDIP yang ke-50 tahun. Selasa, 10 Januari 2022.

Aksi ini dalam dalam rangka mengawal kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh salah seorang KADER PDIP kepada Kader Perempuan PMKRI Cabang Jakarta Pusat.

Dalam aksi ini Skrikandi PMKRI, Ega Lein yang merupakan Presidium Gerakan Kemasyarakatan, PMKRI Cabang Jakarta Pusat melayangkan surat terbuka dan membacakannya kepada Ibu Megawati Soekarnoputri selaku Ketua Umum PDIP.

Bacaan Lainnya

Adapun isu surat terbuka sebagai berikut:

SURAT TERBUKA

Kepada Yang Terhormat, Ibu Megawati Soekarnoputri (Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan) DI Tempat.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Semoga Ibu dalam kedaan sehat walafiat sehingga semua aktivitas dapat berjalan dengan baik.

Terimalah surat kami ini sebagai tanda bahwa sampai hari ini api perjauangan kami belum usai.

Mengawali surat ini, kami mengucapakan selamat hari ulang tahun kepada Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang ke-50 Tahun semoga selalu berjaya bagi para wong cilik.

Dalam rasa kekecewaan, kemarahan dan ketegasan berbalut cinta dan semangat yang mendalam untuk sebuah etikat baik kami atas semua perjuangan dan wujud apresiasi kami kepada kaum perempuan diseluruh Indonesia. Dengan ini kami menyurati secara terbuka Ibu Megawati Soekarnoputri selaku ketua umum PDIP yang adalah sosok perempuan Indonesia yang sangat kami hormati dan kami muliakan di negeri ini.

Perlu kami sampaikan bahwa kader kami dari Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia telah dilecehkan secara verbal oleh kader PDIP yang sekaligus merupakan anggota DPRD Kabupaten Seram Bagian Barat Provinsi Maluku atas nama Saudara Jodis Rumasoal. Pelecehan ini terjadi pada tanggal 08, Desember 2022 yang dimana pada saat itu kader kami melakukan komunikasi guna mengawal agenda pembangunan sumber daya manusia dalam lingkup kemahasiswaan yakni agenda kaderisasi internal PMKRI di kota Jajakan Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku yang telah ditetapkan dalam Sidang MPA XXXI Perhimpunan Mahsiswa Katolik Republik Indonesia di Samarinda.

Dan pada saat komunikasi ini, kader kami meminta kesediaan saudara Jodis Rumasoal sebagai pemateri sekaligus dapat membantu secara materil guna memperlacar agenda dimaksud. Karena mempertimbangkan saudara Jodis Rumasoal adalah wakil rakyat yang bertanggung jawab dan berkewajiban terhadap kepentingan pembanguna di Kabupaten SBB.

Alih-alih merespon dengan etika komunikasi yang baik justru kader kami diperdaya dan digiring kepada tindakan pelecehan yang mana saudara Jodis Rumasoal berkata akan menyangupi maksud tersebut dengan syarat bahwa kader kami harus bersedia melayani hasrat seksualitasnya untuk tidur bersama Josis Rumasoal di hotel, yang pada saat itu menurut pengakuan dari Jodis Rumasoal kepada kader kami bahwa beliau sedang berada di Jakarta untuk beberapa keperluan. Dan pada saat kader kami ini melakukan perlawan dan membela diri secara lisan terhadap perbuat asusila yang dilakukan oleh saudara Jodis Rumasoal ini, tetapi beliau malah berbalik mengintimidasi, rasis dengan mengatakan “kamu belagu sekali, kamu hitam jelek juga, siapa juga yang mau dengan perempuan aktivis yang hari-hari demo dijalan”.

Dan pada tanggal 13 Desember 2022 kader kami melaporkan tindakan asusila yang dilakukan saudara Jodis Rumasoal yang merupakan kader PDIP ini kepada KOMNAS PEREMPUAN dan pada Tanggal 15, Desember 2022 kami juga melakukan pelaporan di BARESKRIM POLRI guna mendapat kepastian dan penegakan hukum kepada pelaku.

Ibu Megawati Soekarnoputri yang kami hormati, sebagai seorang perempuan sungguh kami yakin dan percaya bahwa tindakan saudara Jodis Rumasoal adalah suatu perbuatan tidak terpuji yang bukan saja melukai keluarga besar PMKRI dan juga keluarga besar Cipayungplus tetapi juga telah melukai dan mencederai kehormatan terhadap harkat dan martabat perempuan diseluruh Indonesia tak terkecuali ibu sendiri selaku perempuan yang juga adalah seorang ibu.

Ibu Mega yang kami hargai, bagaimana seharusnya perempuan membela diri dari stigma dan arogansi patriaki yang hari ini bersarang dalam tubuh kader PDIP?. Kami yakin sungguh bahwa jawabannya ada pada moralitas kader itu sendiri dan sebagaimana Ibu sendiri yang adalah seorang perempuan pejuang yang pernah dengan sepenuh hati, jiwa dan raga memikul tangung jawab sebagai seorang pemimpin negara, maka sudah barang tentu Ibu tahu betul jawaban dari pergumulan besar atas air mata, harapan dan perjunagan semua perempuan di bangsa ini atas perlawanan terhadap praktik-pratik kekerasan seksual yang semakin massif di bangsa ini. Bahwa perempuan adalah pilar bangsa yang telah melahirkan peradaban yang harus dihargai dan dihormati kedudukannya, sama,setara dengan manusia lainya.

Ibu Mega yang kami banggakan bukankah sejarah panjang bangsa ini menempatkan fakta penting bahwa keterlibatan dan peran perempuan dalam membangun masa depan bangsa Indonesia adalah hal yang final dan tak bisa diitawar-tawar sebagai suatu cita-cita luhur bung karno yang adalah bapak pendiri bangsa dan juga semua perempuan pejuang yang telah lebih dulu meninggalkan kita?.

Sebagaimana perjuangan Ibu yang masih tetap berapi-api menahkodai PDIP yang merupakan partai yang berpihak tehapat kaum tertindas yang sekaligus merupakan partai penguasa hari ini, maka sama persisnya juga perjuagan semua perempuan aktivis untuk menciptakan ruang aman bagi perempuan dari kekerasan seksual yang telah lama menjamur di bangsa ini. Kiranya ibu sudah banyak perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual tetapi memilih diam karena takut terhadap stigma dan prasangka apalagi pelaku adalah seorang pejabat publik yang mempunyai kuasa, uang dan senjata.

Tetapi kemudian dalam kekecewaan dan kemarahan ini, kami masih sangat percaya dan berharap bahwa ibu yang mana adalah seorang tokoh perempuan direpublik ini yang sekigus juga mempelopori Presiden perempuan pertama di republik ini, kami yakin sunguh bahwa ibu akan berpihak terhadap kemanusiaan dan menempatkan moralitas dan etika menjadi norma dan sistem nilai yang mendasari tubuh partai PDIP itu sendiri. Seperi dalam beberapa kesempatan ibu sendiri telah berkomitmen dan menyampaikan secara tegas bahwa tidak ada tempat atau tidak akan mentolerir kader PDIP yang melakukan pelecehan seksual dan ibu sendiri juga ikut memotivasi perempuan Indonesia untuk berani bersuara dan kami tahu persis ibu juga perempuan yang sangat proaktif hingga lahirnya UU TPKS sehingga menjadi payung hukum bagi korban tindakan kekerasan seksual.

Sehingga melalui surat ini kami meminta perhatian dari Ibu Megawati Soekarnoputri agar dapat merespon masalah ini demi komitmen atas penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia perempuan dan keberpihakan PDIP selaku partai para wong cilik kepada perempuan diseluruh tanah air yang hari ini mengalami pelecehan seksual yang barangkali saja takut bersuara karena dibungkam kekuasaan. Kami berharap surat kami ini dapat di terima secara baik oleh Ibu Megawati Soekarnoputri dengan penuh harap pelaku dapat ditindak tegas sesuai dengan mekanisme konstitusi PDIP.

Demikian surat ini kami sampaikan, atas perhatian dari Ibu kami sampaikan terima kasih

Menteng, Jakarta 10, Januari 2022

Hormat kami,

Srikandi Perhimpunan Mahasiswa Khatolik Republik Indonesia (PMKRI)

Aksi ini juga diwarnai dengan membaca puisi dan lain-lain. Masa aksi juga membakar ban mengencam tindakan asusila yang dilakukan oleh saudara Jodis Rumasoal yang merupakan kader PDIP dan sekaligus anggota DPRD Kabupaten SBB. Provinsi Maluku.