Mahasiswa Jar Garia Gelar Pertemuan dengan Tokoh Adat di Jakarta

Melanesiatimes.com – Masyarakat adat Marfenfen yang terdiri dari delapan orang mengadakan pertemuan dengan Ikatan Mahasiswa Jar Garia (IMAJAR) di Jakarta, kediaman rumah Korneles Galanjinjinay perihal tanah adat masyarakat marfenfen. Kamis, (17 November 2022).

Bacaan Lainnya

Pertemuan yang di pimpin oleh ketua umum Majelis Adat Aru Ursia Urlima Bpk. E, Lazarus Darakay di samping itu juga delapan orang pejuang tanah adat terdiri dari ibu gaelagoy kordinator masyarakat adat marfenfen, bpk Ahmad Naufal (Kepala Ursia) dan bpk Jakaria Djerumpun (Kepala Urlima) dan anggota lainnya.

Dalam pertemuan itu mereka menceritakan bahwa, mereka sudah di Jakarta dalam rentang waktu 3 bulan dengan tujuan memperjuangkan hak Ulayat masyarakat marfenfen, berbagai cara sudah dilakukan audensi ke Komnas HAM, Kementerian ATR/BPN, Istana Negara dan beberapa tempat lainnya.

“Mereka menceritakan bahwa jalur perjuangan litigasi pun sudah di lakukan tapi hasilnya tidak memuaskan mereka meminta mahasiswa membantu mereka dengan perjuangan sebagai mana perjuangan mahasiswa semestinya karena hukum positif Indonesia tidak bisa di percaya lagi karena ujung – ujungnya masyarakat akan kalah dengan itu masyarakat sebagai bukti menyerahkan berkas Kepala ketua umum Ikatan Mahasiswa Jar Garia IMAJAR untuk bersama dalam satu garis perjuangan untuk tanah adat masyarakat Marfenfen .”

Mereka pun percaya perjuangan non litigasi yang harus di tempuh agar mungkin Tanah adat marfenfen bisa di kembalikan kepada pemiliknya, dalam pertemuan itu mereka sepakat agar membuat gerakan Save marfenfen hidup kembali dengan cara yang lebih besar agar pemerintah tau bahwa ada pelanggaran HAM berat yang terjadi di provinsi Maluku, kabupaten kepulauan Aru, terkhusus desa marfenfen negara seharusnya merasa berterima kasih kepada masyarakat lokal/masyarakat adat karena mereka selalu eksistensi menjaga hutan dan melestarikan lingkungannya, Indonesia dikenali sebagai paru-paru dunia karena mempunyai hutang yang hijau luas dan utuh namun jika hari ini pemerintahan dalam hal ini TNI AL datang dengan alasan membangun pos keamanan, melindungi negara.

Namun nyatanya baru saja mereka datang dan belum mendiami tempat itu tapi rusa, burung kaka tua dan satua lainya makin sulit di temukan mereka jauh dari tempat biasa mereka hidup karena beberapa kali TNI AL berburu membunuh menggunakan senjata yang dimiliki.

Masyarakat siap berjuang kembali Sampai tanah adat kembali pada pemiliknya karena eksistensi masyarakat adat sudah ada sebelum Indonesia ada.

 

 

 

Pos terkait