Menu

Mode Gelap
Aksi Depan KPK, Aliansi Pemuda Cinta Indonesia Dikepung Preman  Finlandia Tertarik dengan Kota Pintar di IKN Koordinator Nusa Ina Connection, Apresiasi Pernyataan Menteri Kordinator Bidang Polhukam Mahfud MD Presiden Jokowi Minta Perang Ukraina Segera Dihentikan Pemerintah Kembali Buka Ekspor Minyak Goreng

Opinion WIB

Integrasi dan Manifesto Nilai HMI Dalam Arus Perkembangan Zaman


 Integrasi dan Manifesto Nilai HMI Dalam Arus Perkembangan Zaman Perbesar

Melanesiatimes.com  – Dalam evolusi sejarah peradaban manusia, perubahan merupakan sebuah keniscayaan, inilah karakter utama evolusi. Perubahan adalah ekspresi dari laku manusia, sebab manusia merupakan satu-satunya makhluk Tuhan yang diberikan kelebihan untuk berfikir atau memiliki potensi yang disebut dengan akal. Dengan akal, manusia mampu membedakan mana yang salah dan mana yang benar. Manusia adalah puncak ciptaan makhlukNya yang tertinggi. Sebagai makhluk yang tertinggi manusia dijadikan sebagai Khalifah atau wakil Tuhan di bumi. Demikian pula dengan potensi akal berfikirnya, manusia juga di sebut sebagai makhluk paradoks.

Dalam pengertian secara bahasa, manusia disebut Insan, dalam bahasa arabnya dikenal dengan kata Nasiya yang berarti lupa, dan jika dilihat dari kata dasarnya al-Uns yang berarti jinak. Kata insan dipakai untuk menyebut manusia, sifat lupa dan kata jinak dipakai karena mempunyai arti dimana manusia selalu menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru di sekitarnya. Realitas menunjukkan bahwa manusia masih menjadi misteri yang sulit dimengerti secara kompleks, keinginan untuk mengetahui hakikatnya tidak pernah berhenti, manusia adalah sumber persoalan yang maha besar dan sangat penting untuk dipersoalkan. Sopocles menyatakan bahwa “banyak hal yang luhur dan agung di dunia ini, tetapi tidak ada yang lebih luhur dan agung dari pada manusia”.

Namun disisi lain kelebihan manusia tersebut janganlah dijadikan sebagai cara pandang untuk membanggakan diri. Manusia sebaiknya sadar akan keterbatasannya sendiri. Manusia membutuhkan proses regenerasi dalam membangun perubahan yang lebih baik. Manusia dibatasi oleh umur dan kelak pada hari kemudian akan dimintai pertanggung jawabannya terhadap apa yang sudah dilakukannya di muka bumi ini. Proses regenerasi inilah yang dapat disebut juga sebagai proses perkaderan. Seperti halnya HMI sebagai organisasi perkaderan memiliki tujuan yang berbunyi “Terbinanya insan akademis pencipta pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang di Ridhoi Allah swt.” Proses perkaderan di HMI mengedepankan pada terbinanya mahasiswa Islam menjadi insan paripurna.

Selain sebagai organisasi kemahasiswaan, HMI hadir dengan semangat mempertemukan semangat ke-Indonesiaan dan semangat Ke-Islaman. Hal tersebut tercermin dalam tujuan awal berdirinya HMI yakni mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia, menegakkan serta mengembangkan ajaran agama Islam. HMI mengintegrasikan diri dalam rangka menjawab kebutuhan bangsa dan Negara dengan berupaya melahirkan sosok kader yang mampu berfikir kritis, strategis, objektif, dan rasional serta mempunyai integritas kepribadian dalam rangka mencapai tujuan HMI menuju masyarakat adil makmur yang di ridhoi Allah swt. Dalam pencapaian kearah tersebut, diperlukan berbagai perangkat baik software yang berupa sumber daya manusia yang mumpuni maupun hardware yang berupa sarana dan prasarana agar inovasi serta kreatifitas dapat tersalurkan dengan baik.

Dalam kerangka tubuh HMI, perkaderan adalah ujung tombak dalam organisasi, dengan adanya perkaderan yang baik, maka transaksi pengetahuan, pembaharuan dan perubahan akan lahir. Pemikiran yang kritis, dinamis, dan solutif sangat dibutuhkan dalam ruang-ruang perkaderan. HMI mesti hadir dalam menggunakan kapasitas nalar kritisnya dan selalu berusaha untuk membangun, mempengaruhi dan merawat keutuhan terhadap ekspektasi dalam keberlangsungan kehidupan bernegara. Kader HMI dituntut untuk selalu mempersiapkan diri membangun sistem perkaderan yang sesuai dengan semangat zaman yang mampu beradaptasi cepat dengan perkembangan, membaca arah perubahan ke depan yang bertumpu pada prinsip organisasi, sebab perkembangan sosial politik dan ekonomi yang berlangsung cepat dan dinamis mengharuskan seorang kader untuk selalu aktif dalam menjawab situasi dan kondisi yang ada. Mustahil ada keberlanjutan atau kesinambungan jika seorang kader gagal membuat inovasi dan regenerasi dalam organisasi. Tanpa inovasi dan regenerasi HMI hanya dihadapkan pada dua pilihan, stagnasi atau kemunduran.

Tanggung jawab moral yang diemban HMI dalam mewujudkan masyarakat adil makmur dihadapkan dengan tantangan zaman yang terlampau cepat. Sebagaimana roh perjuangan HMI itu sendiri, securam dan sesukar apapun tantangan zaman menjadi keharusan untuk ditaklukkan. Lafran Pane sebagai penggagas terbentuknya organisasi ini tentu sudah memikirkan dan mencita- citakan bahwa organisasi ini akan menjadi platform pergerakan perubahan umat dan bangsa, guna membangun sebuah peradaban. Indonesia sedang krisis generasi intelektual yang berkualitas serta yang sadar akan hakikat penciptaannya sebagai Khalifah Allah di muka bumi dengan tujuan mengabdikan diri semata-mata kehadiratnya. Sehingga kader HMI mesti membangun formulasi perkaderan yang dapat membuatnya tetap eksis, kritis, inovatif serta mampu mengintegrasikan dengan perkembangan zaman serta tetap teguh pada nilai-nilai insan cita.

Lalu kemudian, bagaimana kader-kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) melihat dinamika perubahan zaman yang begitu cepat? Formulasi gerakan seperti apa yang mesti dilakukan HMI dalam menghadapi gempuran zaman hari ini? Untuk menjawab pertanyaan- pertanyaan ini, mari kita kupas satu-persatu soal “Integrasi dan Manifesto Nilai HMI dalam Menghadapi Gempuran Zaman”.

Himpunan Mahasiswa Islam merupakan organisasi kemahasiswaan sekaligus oraganisasi kader yang memiliki tujuan dan cita-cita besar dalam mewujudkan masyarakat adil makmur yang di ridhoi Allah SWT. Tiap-tiap kader diharapkan mampu melatih diri menjadi insan yang berwawasan luas, kreatif, inovatif, berkarakter serta memiliki kepedulian dan tanggung jawab sosial yang tinggi kepada masyarakat atau dalam istilah HMI disebut dengan insan yang berkualitas insan cita.

Muatan Nilai Dasar Perjuangan (NDP) amat revolusioner hal ini tergambar dalam Bab I NDP tentang dasar-dasar kepercayaan, dimana kepercayaan yang sifatnya membelenggu ataupun menghambat perubahan maka kepercayaan tersebut mesti ditinggalkan. Oleh karena itu, sebagai organisasi kader, fokus utama kader adalah melakukan inovasi dan pengembangan diri, berkreasi, melakukan aktivitas sosial, menjadi teladan karakter serta memiliki visi ke depan tentang masyarakat ideal yang ingin diwujudkan. Aktifitas yang sifatnya membelenggu mau tidak mau mesti ditinggalkan.

Era disrupsi turut mendorong perubahan sosial yang signifikan. Secara perlahan-lahan orang mulai meninggalkan pemanfaatan teknologi analog ke teknologi digital namun bukan berarti meninggalakan nilai keIslam dan keindonesiaan sebagai fondasi perjuangan. Konsekuensi logis dari kondisi ini adalah cara hidup masyarakat dan industri, termasuk organisasi yang mengharuskan kader untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman agar tetap menemukan relevansinya. Bukan perkara mudah untuk dapat beradaptasi dengan zaman yang dikenal dengan karakter kecepatan dan kekuatan inovasi. Bagi HMI yang berstatus organisasi kemahasiswaan dengan fungsinya dalam perkaderan, tentu tidak dapat mengelak dari perkembangan zaman. Untuk itu perbaikan sistem kaderisasi mesti dilakukan dalam rangka menjawab tantangan dan problem. Ini ditujukan untuk memantapkan peranan HMI di garis perjuangan. Setiap zaman memiliki tantangannya sendiri. Tugas HMI sekarang adalah melewati tantangan dengan cara-cara unik, inovatif tanpa mesti menegasi yang prinsip.

Nilai keislaman dan keindonesiaan merupakan hal prinsipil yang menjadi fondasi perjuangan HMI untuk menuju tujuan kolektif. Menempatkan Islam dan keindonesiaan sebagai fondasi perjuangan membawa konsekuensi, mendorong HMI menyandarkan setiap langkah perjuangan pada politik gagasan, emansipasi dan pembebasan yang diintegrasikan dalam bingkai multikulturalisme. Di titik ini, sebagai organisasi yang punya rekam jejak panjang dalam sejarah bangsa Indonesia, HMI harus bisa menerjemahkan lebih dalam mengenai kualitas insan cita HMI agar mampu mengitegrasikan dengan arus zaman yang tak kenal ampun.

Pertumbuhan secara kuantitas tentunya mesti diimbangi dengan kualitas manajemen perkaderan agar nilai yang di cita-citakan dapat diwujudkan secara berkesinambungan. Masalah- masalah dalam lingkup perkaderan mesti dijadikan spirit dan tetap optimis memandang sebagai tantangan perkaderan. Baik itu tantangan yang berasal dari internal maupun eksternal organisasi. Dalam kondisi demikian maka dibutuhkan kematangan mental dan fisik untuk menyelesaikan tantangan yang menggorogoti bahkan telah menjamur dalam tubuh himpunan.

Kondisi Perkaderan

Melihat perkembangan perkaderan pada level komisariat, saat ini perkaderan HMI juga mengalami beberapa kendala. Salah satunya adalah prematurnya perkaderan yang senantiasa mempertontongkan konflik dan pragmatisme dalam internal HMI yang tentunya hal tersebut akan berdapak pada pertumbuhan kader. Belum lagi kondisi dengan minat mahasiswa berHMI dari tahun ketahun yang mengalami penurunan.

Mundur dan memudarnya identitas diri kader semata-mata terjadi karena pemahaman akan tujuan yang hendak dicapai masih belum dipahami sepenuhnya oleh diri kader. Ini terlihat ketika basic traininig calon anggota terlihat acuh pada saat berjalannya forum basic training tersebut. selain itu, ketika telah menjadi anggota pun kader disibukan dengan hal-hal yang mengesampingkan pendalaman akan materi-materi basic training. Sehingga mengakibatkan lahirnya kader yang cenderung “dipaksakan” karena tidak mengusai teori-teori secara universal. Sehingga ketika kader telah mencapai stambuk dalam kepengurusan kecenderunganya akan gagap menyelesaikan persoalan-persoalan.

Dalam kondisi tersebut, perkaderan HMI mesti memberikan formulasi atau gagasan baru agar kader memiliki semangat dan antusias dalam tiap agenda-agenda perkaderan. Dalam pemahaman Freud, hal yang wajar ketika manusia (mahasiswa) melakukan segala hal untuk menghindari kecemasan, namun menjadi tidak wajar ketika mahasiswa (HMI) larut dan menghindari menghindari kecemasan yang sifatnya malah membelenggu. Dalam kacamata Gramsci, kaum terdidik (Mahasiswa) seharusnya didorong menjadi kaum intelektual organik. Kaum yang sadar akan posisinya di dalam struktur kemasyarakatan. Ia mesti memberikan kontribusi nyata dan energi positif dalam masyarakat. Kontribusi positif tidak selalu ditunjukkan dengan sikap resistensi terhadap pemerintah. Walaupun pada kenyataannya banyak kebijakan pemerintah yang tidak pro dengan rakyat.

Perkaderan dalam HMI sebaiknya dapat menempatkan kader-kadernya untuk mengaktualisasikan potensi masing-masing dan meninggalkan benalu konflik dalam tubuh organisasi. Menurut Maslow salah satu tokoh psikolog asal amerika mengungkapkan bahwa kebutuhan akan aktualisasi diri menempati posisi teratas dalam kebutuhan manusia. Kebutuhan dicapai secara bertahap. Dimulai kebutuhan fisiologis sampai dengan kebutuhan akan harga diri. Salah satu kebutuhan akan tercapai jika kebutuhan sebelumnya terpenuhi. Salah satu tantangan pada perkaderan saat ini adalah bagaimana kader mengaktualisasikan potensinya di HMI.

Poin penting perkaderan dalam HMI adalah bagaimana seorang kader dapat melakukan perkaderan yang dimulai dari diri sendiri. Dibutuhkan kesadaran individu agar internalisasi nilai- nilai HMI dapat masuk meresap ke dalam jiwa tiap individu kader HMI. Dari hal inilah sebenarnya proses perkaderan dimulai. Perkaderan dimulai dari pribadi individu, kemudian baru menyebar ke orang lain dan masyarakat luas.

Nilai Insan Cita HMI

Di era revolusi industri 4.0 yang tengah mengarah ke revolusi industri 5.0 dewasa ini, pemaknaan tentang kualitas insan cita pun mengalami perubahan dan penyesuaian. Kualitas akademis bukan lagi hanya dinilai berdasarkan indikator gelar akademik (sarjana, magister, doktor) saja, namun lebih pada karya yang mampu diwujudkan sebagai bukti yang nyata. Misalnya karya ilmiah berupa buku, artikel jurnal, opini solutif, dan sebagainya. Begitu juga dengan kualitas cita lainnya. Problematika zaman sebagai dampak dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi serta kebutuhan dan kecenderungan masyarakat dewasa ini mengharuskan kader HMI untuk adaptif. Kualitas insan cita yang dirumuskan HMI pada hakikatnya bertujuan untuk menjawab persoalan atau minimal memberikan tawaran solusi atas berbagai problematika yang dihadapi umat dan bangsa. Oleh karena itu, pemaknaan lima kualitas insan cita sesuai dengan situasi dan kondisi sekarang dan masa yang akan datang merupakan suatu keharusan.

Himpunan Mahasiswa Islam memiliki nilai-nilai yang tercantum dalam pasal 4 Anggaran Dasar HMI yakni, “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi, bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terbentuknya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT”.

Integrasi nilai insan cita HMI sangatlah penting, nilai-nilai dasar perjuangan (NDP) menjadi tonggak atau landasan ideologi dalam berpijak dan melakukan usaha-usaha menciptakan nilai HMI dalam kehidupan, sehingga mampu membawa sebuah perubahan. Selanjutnya adalan semangat membangu kesadaran dan pemberdayaan. Maksudnya adalah seorang kader HMI harus memiliki tingkat kesadaran yang lebih dan rasa kepekaaan sosial yang tinggi terhadap realita kehidupan di masyarakat sesuai doktrin yang ada dalam insan cita itu sendiri. Misalnya jika komisariat berada di lingkungan masyarakat, kader HMI harus mengambil bagian terhadap perubahan lingkungan hidup di sekitarnya. Dan yang terakhir adalah pemberdayaan. Jika seorang kader HMI sudah memiliki kesadaran, maka ia akan mampu memberdayakan masyarakat di sekitarnya. Selain itu, pemaknaan secara mendalan mengenai kwalitas insan cita mesti menjadi nafas kader agar mampu memberikan formulasi dan inovasi baru terhadap perkembangan zaman.

Kader HMI tidak hanya dituntut untuk memiliki wawasan yang luas dan terampil, namun juga berdaya cipta atau kreatif dan inovatif. Pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki dituntut untuk diberdayakan dalam rangka mengungkap hal baru, meningkatkan dan mengembangkan yang sudah ada agar menjadi semakin optimal. Dengan kata lain, kader HMI dituntut untuk selalu terlibat aktif dalam usaha pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta gagasan solutif guna kemaslahatan umat dan bangsa.

Integrasi, Inovasi dan Manifesto

Integrasi Nilai dan Inovasi dalam tubuh HMI tentunya tidak boleh pudar, semangat tiap- tiap kadernya menjadi insan yang berwawasan luas, kreatif, inovatif, berkarakter serta memiliki kepedulian dan tanggung jawab sosial yang tinggi kepada masyarakat atau dalam istilah HMI disebut dengan insan cita mesti menjadi slogan utama. Tugas HMI adalah bagaimana mempersiapkan diri melalui revitalisasi sistem perkaderan yang sesuai dengan semangat zaman. kader HMI mesti menjadi sosok yang mudah beradaptasi cepat dengan perkembangan dan mampu membaca arah perubahan ke depan yang bertumpu pada prinsip organisasi. Perkembangan sosial politik dan ekonomi yang berlangsung cepat dan dinamis mengharuskan kader untuk selalu aktif dalam menjawab situasi dan kondisi yang ada.

Perkembangan dunia bergeliat dengan cepat, berkelindan dan mencerabuti norma-norma kuno yang selama ini bertahan semenjak peradaban manusia dimulai. Dinamika ini adalah tonggak dari pesatnya dunia dalam paket modern yang diwarnai dengan digitalisasi semua sektor kehidupan. Fenomena ini terjadi di mana-mana. Di Indonesia bisa kita lihat dengan semakin meningkatnya penetrasi pengguna internet yang signifikan, berbanding lurus dengan polarisasi di masyarakat sebagai akibat dari runcingnya pertarungan politik di kanal virtual. Sementara itu, produk-produk digital, pekerjaan yang terdigitalisasi serta semua hal yang berbau ekosistem digital, statistik penggunaannya kian menjulang. Ekosistem ini bertranformasi menjadi tren yang mau tidak mau mengundang keterlibatan kita semua untuk berada di dalamnya.

Tidak lupa, bahwa pemahaman kita ini ternyata tidak mengantar kita untuk keluar dari paradigma follower seperti yang selama ini melekat pada komunitas kita sebagai populasi konsumen. Ketertinggalan kita pada wialayah kader HMI setidak-tidaknya tergambar dari kesibukan kita pada persoalan internal organisasi yang selalu diwarnai dengan konflik kepentingan, yang berikutnya adalah ketertinggalan kita dalam membaca gerak laju perkembangan dunia. Kedua hal mendasar inilah yang membuat kita terdampar dalam peran sebagai konsumen, bukan inovator atau pemegang peran utama di era ini. Situasi ini harus diubah dengan segera, kita harus merebut peran yang jauh lebih krusial dari sekedar konsumen. Karena itulah, hal pertama yang harus kita ganti adalah pemahaman fundamental kita terhadap hakikat yang melekat pada era ini.

Ketertinggalan kita kader HMI setidak-tidaknya tergambar dari kesibukan kita pada persoalan internal organisasi yang selalu diwarnai dengan konflik kepentingan, yang berikutnya adalah ketertinggalan kita dalam membaca gerak laju perkembangan dunia. Kedua hal mendasar inilah yang membuat kita terdampar dalam peran sebagai konsumen, bukan inovator atau pemegang peran utama di era ini. Situasi ini harus diubah dengan segera, kita harus merebut peran yang jauh lebih krusial dari sekedar konsumen. Karena itulah, hal pertama yang harus kita ganti adalah pemahaman fundamental kita terhadap hakikat yang melekat pada era ini.

Integrasi dan pendalaman nilai HMI mesti menjadi semangat utama dalam membangun inovasi yang berkemajuan serta mampu menjawab berbagai tantangan zaman. Penguasaan akan teknologi dan informasi menjadi sangat penting untuk diwujudkan dalam diri setiap kader seningga akan memudahkan kader dalam mengambil keputusan-keputusan strategis berkenaan dengan masa depan organisasi. Hasrat untuk terus memahami, menggerakkan “pengikutnya”, mencari tahu segala sesuatu adalah cirinya. Ini senafas dengan prinsip responsivitas yang cenderung menitikberatkan pada dimensi praksis dari seorang kader.

Menyimak segelumit persoalan tersebut, HMI harus tetap mengambil peran penting terhadap perubahan. HMI harus aktif mengambil peranya dan tidak menyibukkan diri pada konflik internal yang sifatnya tidak membangun. Tentunya, sebagai organisasi yang menfungsikan diri sebagai organisasi kader, maka setiap gerak langkah organisasi harus dilaksanakan dalam rangka memberdayakan para anggotanya yang secara maksimal menjadi bagian yang harus di kader. Untuk menegaskan pemahaman kader HMI, diperlukan pemahaman internal organisasi yang mendalam. Secara serentak organisasi bertanggung jawab terhadap pemahaman kepada para anggota dalam membangun nilai HMI dalam menyelami arus perkembangan zaman. Dengan demikian, secara fungsional organsisasi, orang yang dipercaya sebagai pengurus dalam level manapun (komisariat, korkom, cabang, badko, maupun pengurus besar) harus dapat memainkan peran ini.

Masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah Swt merupakan gambaran masyarakat ideal versi HMI yang harus diikhtiarkan oleh seluruh kader, bahkan para alumninya. Keinginan untuk mewujudkan kebaikan bagi umat dan bangsa harus menjadi motif bagi tiap-tiap kader HMI dalam membelajarkan diri, beraktivitas dan berkarya seiring dengan perkembangan zaman. Oleh karena itu, tiap-tiap kader HMI harus memiliki gambaran jelas tentang suatu masyarakat ideal yang diharapkan dan ingin diwujudkan. Tanpa itu, maka proses kaderisasi dan segala bentuk kegiatan yang dilakukan menjadi tanpa makna.

Sebagai upaya merawat ruang-ruang kaderisasi dengan menyeimbangi perkembangan zaman, maka perlu adanya skema dan pola pembaharuan dalam ruang privat perkaderan HMI, sehingga upaya peningkatan kualitas perkaderan HMI melalui pendekatan perkaderan yang relevan dengan kebutuhan saat sekarang dengan kecenderungan perubahan psikologis yang cenderung mengikut dengan perubahan kondisi masyarakat.

Hal yang perlu menjadi atensi khusus oleh seluruh penggerak HMI adalah pendekatan kualitas, bukan pendekatan kuantitas. Olehnya, penekanan dan prioritas atas pendekatan kualitas dalam perkaderan sudah saatnya menjadi kesadaran dan komitmen kolektif dari semua anggota dan pengurus HMI di seluruh Indonesia. Proses perkaderan yang berkualitas dibentuk oleh unsur-unsur utama pembentuk proses pembelajaran, yang mencakup tujuan, materi, metode, peserta, instruktur, manajemen pengelolaan, iklim, evaluasi, serta tahapan perkaderan pembentukan dan tahap pengembangan.

Penulis : Syawal Madani

Alumni Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar jurusan Ilmu politik dan Wakil Sekretaris umum bidang Penelitian, Pengembangan dan Pembinaan Anggota HMI Kom.Ushuluddin Filsafat dan Politik.

Facebook Comments Box
Artikel ini telah dibaca 99 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Pemimpin itu Hadir Membawa Perubahan, Bukan Beban.!!

27 Januari 2023 - 11:24 WIB

Pemodal yg Pintar dan Pejabat yang Tolol?

23 Januari 2023 - 09:53 WIB

Liga 1 Tanpa Degradasi, PSSI Butuh Revolusi

23 Januari 2023 - 09:33 WIB

Arah Koalisi Parpol Jelang Pilpres 2024

11 Januari 2023 - 18:34 WIB

Pilpres 2024, Defisitnya Politik Gagasan (?)

20 November 2022 - 08:58 WIB

Elat, Negeri Para Datuk

13 November 2022 - 21:00 WIB

Trending di Opinion