Postingan Ibrahim Peyon Dianggap Provokatif dan Pecah Belah NKRI

Melanesiatimes.com – Penyataan terbuka Ibrahim Peyon, Ph.D dalam postingan akun media sosial pribadinya dianggap Provokasi isu Papua. Ibrahim Peyon dalam pernyataannya dipandang oleh Gerakan Nasional Pemuda Indonesia sebagai bentuk penghinaan terhadap martabat NKRI

Bacaan Lainnya

Dominggus Kordinator GNP-NKRI sekaligus mahasiswa asli Papua di salah satu kampus ternama di Jayapura, dalam pernyataannya saat dihubungi telah mendesak pihak kepolisian segera memproses Ibrahim Peyon, Ph.D karena dianggap menghina martabat NKRI, jika kepolisian tidak mengambil langkah tegas untuk memproses yang bersangkutan, maka kami akan mencari Ibrahim Peyon,Ph.D dengan cara kami sendiri karena pernyataannya sangat sangat tendensius dan tidak mendasar. Tegasnya

Sebelumnya Ibrahim Peyon Ph.D dalam postingan terdapat 12 poin diantaranya Perjuangan Papua digunakan dua pendekatan yaitu Isu HAM dan Damai, dan pemerintah Indonesia tidak mampu hadapi dengan dua pendekatan ini karena Indonesia menggunakan pendekatan militerisme, serta pemerintah Indonesia gagal mengatasi diplomasi ULMWP. Ibrahim Peyon Ph.D juga mengklaim ULMWP adalah lembaga resmi dan representatif

Pernyataan Ibrahim Peyon Ph.D diatas tidak memiliki dasar serta fakta yang jelas, kenyataannya banyak rakyat sipil di Papua justru dibantai oleh kelompok separatis, tenaga kesehatan dan masyarakat tidak berdosa menjadi korban pembantaian kempok separatis, bahkan TNI-Polri juga menjadi korban pembantaian.

Dominggus juga berjanji akan mendatangi Ibrahim Peyon Ph.D yang diketahui sebagai Dosen di Universitas Cenderawasih untuk meminta pertanggung jawaban atas pernyataan postingannya di media sosial, tugas anda mendidik mahasiswa, memberikan edukasi, bukan memprovokasi dengan isu Papua.

Sikap kami tegas mendesak kepada penegak hukum untuk mengambil langkah tegas terhadap Ibrahim Peyon, jangan anda hanya memperkeruh situasi Papua tanpa melihat fakta bahwa banyak keluarga TNI polri serta rakyat sipil yang berduka atas ulah pembantaian kelompok separatis. Tegasnya