Mantan Pengurus PB HMI ; Geli Lihat Simbol HMI Dikemenangan Gus Yahya

Melanesiatimes.com – Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Dokter Fikri Suadu, yang bergelut di bidang ilmu sistem saraf atau sistem neuron angkat bicara soal pencatutan simbol tertentu termasuk HMI kepada ketua umum PB NU terpilih periode masa khidmat 2021-2026 dalam Muktamar NU ke-34 di Provinsi Lampung yakni KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya.

Bacaan Lainnya

Seperti diketahui, pasca Muktamar NU ke-34 di Provinsi Lampung pada beberapa pekan lalu, menjadi sorotan publik tak tekecuali juga dengan organisasi mahasiswa islam berkelahiran 1947 tersebut. Banyak beredar dan viral di media sosial postingan-postingan gambar dan text menyematkan ketua umum PB NU terpilih KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya juga sebagai kemenangan HMI.

Menurut pria asal Manado Provinsi Sulawesi Utara yang akrab disapa Dokter Fikri hal itu merupakan sikap dan kerjaan orang yang kurang kerjaan serta kurang ilmu.

“Yang membuat ini pasti perspektif pikirannya sangat sempit dan tidak luwes,” tulis Fikri Suadu dalam postingan facebooknya seperti dikutip Bataviatimes.com pada, Jumat (24/12/2021)

Bahkan Fikri juga menuturkan, manyematkan simbol HMI dengan seorang tokoh yang pikirannya sudah melampaui sentimen-sentimen kelompok yang sempit merupakan perbuatan orang yang tidak waras. Bahkan kata Dikter Fiqri Geli lihatnya.

“Gambar ini kurang kerjaan. Ini serius dan asli kurang kerjaan. Menyematkan identitas simbolik pada seorang tokoh yang pikirannya sudah melampaui sentimen-sentimen kelompok yang sempit. Asli, geli saya lihatnya. Langsung ngga percaya diri,” ucapnya

Selain itu lanjut Dokter Fikri, Nahdlatul Ulama (NU) merupakan lembaga yang dimiliki semua orang (umat) dan tidak pantas tokoh besar selayaknya KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya dikotak-kotakan dengan sentimen nilai simbolik yang sempit.

“Bagaimana bisa seorang tokoh sekaliber Gus Yahya Cholil Staquf masih di identifikasi dengan sentimen nilai simbolik yang sempit dan terkotak-kotak seperti itu. NU itu milik umat!,” paparnya

“Menjadi ketua umum PB NU itu artinya representasi umat secara menyeluruh, terkhusus warga nahdliyin. Sama sekali ngga ada urusan dengan sentimen identitas HMI/KAHMI. Asli mau muntah lihatnya. Mereduksi kebesaran NU dalam satu kontak sempit HMI-PMII. Itu sempit sekali. Kurang pengetahuan dan tidak berilmu blas,” imbuhnya