Stop Baper, Ayo Belajar dari Srikandi Berdarah Aceh

Gambar Cut Meutia, : Ceknricek com

Melanesiatimes.com – Jangan sampai kamu sebagai generasi yang buta sejarah dan tidak memiliki semangat perlawanan terhadap penjajah gaya baru, di era digital ini kawan. Ambil semangatnya dan merekonstruksi sesuai zaman mu. Pada Momentum hari pahlawan Nasional 2021. Kami merasa perlu memberikan sedikit ulasan tentang semngat perjuangan pahlawan-pahlawan perempuan Indonesia pada abad ke-19, seperti Kartini, Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Meutia, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, Rasuna Said, dan sebagainya. Dengan besarnya jasa perempuan tersebut, seluruh generasi muda atau generasi millenial terutama perempuan yang ada di Indonesia dapat selalu menghargai orang tua serta pertingnya mengambil semangat hidup dari tokoh Pejuang Perempuan Indonesia yang telah pergi meninggalkan kita, namun semangat mereka jangan sampai pergi bersama mereka.┬áBerikut adalah sedikit ulasaan tentang Srikandi Berdarah Aceh.

Bacaan Lainnya

Perempuan berdarah Aceh dikenal sebagai sosok wanita yang tanggguh, kuat, serta pemberani. Di medan perang bahkan mereka ikut berjuang bersama sang suami mempertaruhkan nyawanya demi mengusir penjajah Belanda.

Sederet nama pejuang wanita asal Aceh itu tak hanya Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dhien, dan Pocut Baren, namun juga Cut Nyak Meutia. Wanita kelahiran 1870 asal Keureuto, Pirak, Aceh Utara, ini juga dikenang sebagai pahlawan nasional.
Siapa yang tak kenal pahlawan satu ini, wajahnya juga tertera di uang kertas pecahan Rp 1.000 sejak tahun 2016. Cut Meutia dikenal sebagai pahlawan wanita yang tangguh dan cinta kepada agama dan bangsa.

Cut Meutia juga dikenal sebagai sosok wanita yang rela mati syahid. Ia mengorbankan nyawanya demi membela agama. Cut Meutia meninggal di tangan Belanda, pada 24 Oktober 1910 di Alue Kurieng, pelosok Pirak Timur, Aceh Utara.

 

Setelah ditinggalkan suami tercinta, Cut Meutia harus segera melupakan kesedihannya, mengangkat senjata untuk bersiap turun ke gelanggang. Strategi gerilya tetap menjadi tumpuan. Tidak semestinya menyerang terang-terangan jika tidak ingin mati konyol karena Belanda nyaris unggul segala-galanya. Terlebih lagi, kekuatan Cut Meutia tergerus lantaran tidak sedikit anak buahnya yang terpaksa menyerah sepeninggal Pang Nangroe. Dengan daya yang tersisa, Cut Meutia tetap melawan kendati dalam kondisi yang serba terbatas.

Tanggal 24 Oktober 1910, tepat hari ini 108 tahun silam, atau hampir sebulan setelah kematian suaminya, Cut Meutia terkepung di pedalaman rimba Aceh sisi utara. Bersama sejumlah pengikut yang masih setia, ia berupaya bertahan dengan sepucuk rencong di tangan. Dalam situasi mencekam itu, tiba-tiba terdengar bunyi tembakan. Tiga kali suara letusan, tiga butir peluru pula menerjang raga Cut Meutia: dua terkena badan, satu menembus kepala. Tubuh wanita pemberani itu ambruk memeluk alam. Cut Meutia gugur di medan laga. (Berbagai Suimber)