Memilih SMS, Petaka Baru Untuk Buru Selatan

MELANESIATIMES.COM – Calon Bupati Kabupaten Buru Selatan Safitri Malik Soulissa (SMS) dinilai tidak layak menjadi pemimpin di kabupaten dengan tajuk Lolik Lalen Fedak Fena itu. Demikian juga Safitri Malik dikhawatirkan menjadi mala petaka baru untuk masa depan pembangunan kabupaten bupolo tersebut.

Bacaan Lainnya

Safitri dinilai tidak bisa berbuat apa-apa dalam menjawab masalah dan tantangan pembangunan kabupaten buru selatan dan aspirasi masyarakat semasa menjabat sebagai anggota DPRD Provinsi Maluku periode 2014-2019. Padahal, ia bersama suamninya bupati Bursel Tagop Sudarsono Soulissa (Tagop) menjabat selama 10 tahun, harusnya sinegitas untuk menata daerah dan masa depan pembangunan di kabupaten itu terbangun. Nah ini kan tidak ada. Kata Ibrahim Malik Fatsey melalui pesan selulernya, Jumat, (23/10/2020)

Di lain sisi, lanjut ibrahim banyaknya kegagalan yang pernah ditorehkan olehnya yang membuat safitri dianggap tidak pantas memimpin buru selatan ke depannya. Namun menurutnya, hal demikian sangat di tentukan oleh kesadaran masyarakat sebagai pemilik sah suara demokrasi pilkada.

“Kabupaten buru selatan memang masih banyak yang perlu di benahi. Ditangan masyarakat buru selatanlah masa depan itu terbangun. Saya hanya mengingatkan bahwa memilih karena prestasi dan kebaikan seseorang itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Seperti halnya terjadi pada Safitri tidak kurang gagalnya semasa menjabat wakil rakyat di maluku periode 2014-2019” Ungkapnya

Banyaknya pengangguran dan kurangnya lapangan pekerjaan di kabupaten buru selatan menjadi momok menakutkan bagi masa depan generasi di daerah tersebut. Tagop (bupati) dan safitri (SMS) yang pernah menjabat sebagai anggota DPRD provinsi maluku memang tidak perduli dengan hal demikian. Kendati demikian, kampanye politik Safitri (SMS) dan Kampanye Pemerintahan Tagop berhasil dalam pembangunan adalah kebohongan yang sengaja mau dipelihara.

“Pembangunan apanya ? Melihat kekayaan SDA dan SDM yang dimiliki buru selatan harusnya benar-benar dimanfaatkan dengan baik oleh Tagop selama 10 tahun kepeminannya. Namun faktanya kan tidak, masyarakat jangan hanya melihat sisi sempit dan hal yang sesaat saja. Melainkan jauh dari itu yakni masa depan buru selatan dan generasi. Hal yang mesti dikhawatirkan dan butuh pengawalan ketat adalah jangan sampai safitri akan main politik kotor dengan membeli suara. Ini hal yang perlu diantisipasi” Kata Ibrahim

Selain itu juga, ia menyinggung kegagalan tagop dalam menumbuhkan semangat keagamaan di tanah bupolo terebut. Kegagalan tersebut ditandai dengan tidak adanya Masjid Raya dan Gereja Akbar di kabupaten Buru Selatan selama 10 tahun kepemimpinanya.

“Ini penting, sebab apa ? Masyarakat buru selatan hidup dengan adab adat istiadat dan agama yang kuat. Sekalipun hanya makan kasbi atau patatas, soal agama dan peribadatan apapun bisa direlakan” Tuturnya

Kegagalan itu dinilai menjadi momok sejarah buruk yang dikhawatirkan akan dilanjutkan oleh Safitri Malik Soulissa (SMS) sebagai calon bupati yang juga berpasangan dengan Gerson Eliaser Silsily (Ges).

“Masyarakat harus sadar dengan pilihannya nanti. Tidak hanya memilih karena tuntutan kenegaraan, melainkan memilih dengan harapan besar untuk perubahan pembanguan baik SDM dan SDA yang dikelola dengan baik untuk masa depan buru selatan” Harapnya

Lebih jauh, dirinya juga menyinggung kurangnya pendidikan politik yang dilakukan disana. Menurutnya, pudarnya kesadaran politik dikhawatirkan justru menjadi senjata mematikan untuk masa depan buru selatan.

“Kurangnya pendidikan politik di kalangan masyarakat, bisa menjadi suatu yang sangat berbahaya untuk masa depan buru selatan kedepannya. Pendidikan politik mestinya dilakukan bukan hanya saat momentum politik misalnya pemilu dan pilkada, melainkan jauh sebelum itu juga sudah dilakukan. Nah masalah ini dalam momentum pilkada ya sangat diberatkan tugasnya ke Bawaslu dan KPU, juga partai politik, setelahnya baru keikutsertaan kaum pendidikan untuk memberikan stimulus pendidikan politik.”

Fatsey berharap, masyarakat buru selatan tidak mudah dimanfaatkan untuk kepentingan yang berujung profokatif. Rentang pilkada sering kali terjadi profokatif. Hal yang perlu selalu diingat adalah wujud kabupaten terebut untuk anak cucu (generasi) para tetua buru selatan.

“Banyak harapannya sebenanya. Terpenting masyarakat jangan salah memilih dan menilai bahkan juga tidak mudah terprofokasi dengan sentimen isu-isu yang di bangun. Hanya Allah Swt tuhan yang maha kuasa katong hanturkan cita-cita dan harapan. Semoga masyarakat buru selatan tetap menjaga keistimewaan buru selatan yang ada dan menjaga persatuan dan kedewasaan hidup basudara. Insya Allah” Tutup Ibrahim

Pos terkait