ETOS : Antara Kualitas dan Popularitas dan Garis Keturunan

BEKASI – Politik memang menjadi sesuatu yang wah di negeri ini, apalagi terkait persiapan Pilkada 2020 paska Pileg dan Pilpres 2019 lalu.

Bacaan Lainnya

Berbagai tanggapan dan analisa dari berbagai pengamat politik negeri ini terus bergulir.

Begitu juga dengan Iskandarsyah Direktur Eksekutif ETOS Indonesia Institute yang dihubungi lewat telepon minggu 23 Agustus 2020, Iskandar menegaskan kita sudah mengalami krisis politik yang sudah tajam, rakyat sudah bodoh sekarang ditambah makin bodoh, Kualitas seseorang sangat mudah dikalahkan oleh popularitas dan gaya pragmatis yang tajam, politik transaksional kata Iskandar.

Kawan-kawan media bisa bayangkan kalau ini terus terjadi maka negeri jelas dalam ambang kehancuran.

Pada tahun 2018 periode September hingga November saya melakukan survey kepada 560 anggota DPR RI dan DPD RI,hingga saya kerucutkan mengecil hingga 5 besar yang menghasilkan 5 anggota DPR RI dan DPD RI yang layak pilih, ini pun berlawanan dengan mau nya masyarakat, tapi proses tak akan mengingkari hasil kata Iskandar tersenyum.

Lima besar anggota DPR RI yang masuk dalam survey ETOS Indonesia Institute jelas adalah nama-nama yang punya kulitas, integritas dan yang perlu dicatat adalah tidak pernah atau sedang bermasalah hukum.

Ketika media menanyakan 5 besar anggota DPR RI yang di survey ETOS Indonesia Institute 2018 lalu,Iskandar mengatakan 5 besar itu adalah mas Bamsoet, bang Effendi Simbolon, mas Dede Yusuf, bang Dasco dan Pak Michael Watimena.

Kawan-kawan bisa lihat aja sekarang, mereka sekarang dalam posisi bagus di senayan sana.

“Ya itu yang saya katakan proses tak mengingkari hasil.” Pertanyaannya apa ini bisa dipertahankan ke depannya?

Terlepas untuk para anggota-anggota dewan tersebut, Pilkada juga menjadi sesuatu yang harus diperhatikan, memimpin daerah untuk 5 tahun ke depan, bukan masalah sepele dan ringan ini.
Masa depan daerah ditentukan oleh orang ini nantinya.

Bagaimana kalau calon adalah incumbent juga harus jadi pertimbangan, apalagi incumbent banyak terindikasi masalah-masalah hukum.

Ini akan jadi masalah besar. Belum lagi calon-calon baru yang coba bertarung tapi tak punya kemampuan dalam berpolitik tahu-tahu nongol, hanya karena lantaran bapaknya presiden atau mertuanya presiden, ini preseden buruk buat cerita politik negeri ini.

Kalau semua karena itu barometernya ya sudah dibubarkan saja sekalian.
Kualitas diabaikan, popularitas dan gaya pragmatis yang kental menjadi acuannya ya kacau benar republik ini.

Tugas kita adalah menyadarkan masyarakat dari tidurnya yang terlalu lama karena keasyikan bermain medsos.
Saya katakan skali lagi bahwa proses tidak mengingkari hasil kata Iskandar menutup wawancara nya.

Pos terkait